Thursday, 2 April 2015

Nulisyuk.com Rilis!

*15 tahun berlalu setelah update terakhir*
Saya mau update lagi nih. Hehehe.. Jadi gini,  setelah saya lihat ternyata saya udah ngepost tulisan sebanyak 104 biji. Banyak ya? enggak juga sih, melihat usia blog ini yang udah lumayan uzur. Ternyata postingan saya cukup random ya. Nah, atas dasar itu dan beberapa pertimbangan lainnya, saya mulai menyaring postingan-postingan saya lagi, akan saya pilih mana yang layak tayang mana yang enggak. 

Yang pasti, blog dimasabi.com akan lebih mengarah ke jurnal pribadi dan update karya saya aja. Postingan "nyampah" akan saya buang, dan postingan mengenai kepenulisan akan saya tata ulang dan saya pindahkan ke suatu blog yang asik tentang kepenulisan.

Blog yang asik. Nah, tanpa banyak berpanjang lagi, melalui postingan ini saya resmikan lahirnya nulisyuk.com



Nulisyuk.com merupakan blog yang ingin mencoba menjawab berbagai pertanyaan yang sering timbul di benak penulis pemula. Yah, belum tentu menjadi solusi, tapi semoga dapat membantu teman-teman yang ingin terjun di bidang kepenulisan.

Sebagai pembukaan udah ada dua postingan lho :
1. Cara Menerbitkan Buku
2. Mengapa Draft Novel Kita Sering Putus di Tengah Jalan?

Postingan terbaru akan datang tiap hari Senin. Jadi postingan selanjutnya insyaallah akan rilis tanggal 13 April 2015. 

Follow twitternya di @blognulisyuk dan Page FBnya di sini yaaaa... :)

Demikian pengumuman ini saya sampaikan, semoga nulisyuk.com bermanfaat untuk teman-teman yang ingin bergabung menjadi penulis hehehe... ^_^
Oke sampai jumpa lagi.


Nulis Yuk!
Keep Writing, Be Happy
Abi With Love


Monday, 18 August 2014

Plot Dalam Novel dengan Metode 8 Sequence

Bagi saya, ada dua hal elemen krusial dalam proses pembuatan sebuah novel fiksi: Plot dan Karakter. Dalam cerita, plot berperan sebagai mangkuk, dan karakter berperan sebagai indomie kari ayam dengan telur dan irisan cabe rawit. Keduanya saling melengkapi, dan emang ditakdirkan berjodoh.

Namun pada posting-an kali ini, saya mau ngebahas masalah plot.

Secara umum ada dua model plot yang dipakai di dunia penceritaan kreatif, baik di media film maupun buku, yaitu plot maskulin dan plot feminim. Plot maskulin memiliki jalan cerita yang lebih dipengaruhi oleh sisi eksternal. Plot ini biasanya dipakai dalam film-film petualangan dan action macam Rambo, The Raid, dan Indiana Jones.

Sebaliknya, plot feminim dipengaruhi oleh sisi internal, tepatnya karakter. Interaksi antar karakter maupun dengan dirinya sendiri menjadi pengendali jalannya cerita. Misalnya, plot pada Jomblo, Juno, Laskar Pelangi, Idolku Cantik dan banyak lagi. Plot inilah yang sering dipakai di dunia fiksi Indonesia, termasuk saya.

Inget enggak guru bahasa Indonesia kita pernah mengajarkan tentang plot? Yap. Secara umum plot dalam cerita ada tiga sequence: Setup - Klimaks - Konklusi. Pada saat proses penerbitan buku pertama saya, Gorilove; Cinta Lebih Besar daripada Monyet, saya mendapat ilmu yang keren punya tentang plot feminim dari Raditya Dika. Dan ini jadi pegangan saya dalam menulis fiksi. Saya akan membaginya sekarang ; cara membuat plot dengan metode 8 sequence.

Dari tiga sequence plot tadi, kita dapat memecahnya menjadi 8 sequence. Biar gampang, saya akan menjelaskan dengan Novel kedua saya, Detektif Sekolah, sebagai contohnya. Yuk kita mulai.

SETUP

Sequence 1. Dunia sempurna yang semu

Ada semacam kesemuan dalam kehidupan para karakter. Mereka terlihat menjalani kehidupan yang sempurna, tapi sebenarnya masih ada yang kurang dalam hidup mereka.

Contoh: Dalam Detektif Sekolah, 3 karakter utamanya yakni Momon, Bams, dan Tessa memiliki kehidupan yang terlihat sempurna, namun semu. Momon aktif di tim basket tapi hanya jadi pembantu. Bams aktif di OSIS tapi pemikirannya tak pernah dianggap. Tessa adalah juara kelas yang mulai bosan dengan rutinitasnya.

Sequence 2. Penyadaran

Pada fase ini karakter mulai sadar bahwa ada yang kurang dalam hidup mereka. Penyadaran mereka bisa timbul karena faktor tertentu.

Contoh : Momon, Bams, dan Tessa bertemu di taman belakang sekolah. Mereka saling menceritakan permasalahannya masing-masing. Hingga akhirnya mereka sadar, mereka butuh sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat mereka lebih berarti. Akhirnya mereka sepakat membuat satu kelompok Detektif.


Sequence 3. Persiapan Perjalanan

Pada tahap ini, setelah menyadari adanya sesuatu yang kurang di hidupnya, karakter mempersiapkan diri untuk melakukan “perjalanan” atau usaha untuk menyempurnakan hidupnya.

Contoh : Setelah membentuk tim detektif, agar cepat eksis, mereka memasang pamflet promosi segede gaban di papan mading sekolah. Harapannya jika ada anak yang memiliki masalah pelik, ia akan datang ke detektif sekolah. Benar saja, akhirnya mereka mendapatkan satu klien. Seorang gadis bernama Mila yang sering menerima surat cinta kaleng.

KLIMAKS

Sequence 4.  Naik ke atas

Para karakter seolah hampir berhasil menemukan apa yang ia cari. Mereka tampak bahagia. Padahal sejatinya, tahap ini merupakan persiapan menuju konflik puncak.

Contoh: Anak-anak detektif sekolah telah melakukan penyelidikan berhari-hari. Mereka bekerja keras untuk itu. Mereka merasa pintu kebenaran akan segera muncul, orang yang mengirim surat cinta kaleng itu bakal segera ketahuan.

Sequence 5. Mata badai

Klimaks dari cerita. Pada fase ini, para karakter dihadapkan pada kesulitan yang tinggi. Semua yang awalnya berjalan dengan baik, kemudian berantakan.

Contoh :  Detektif sekolah dihadapkan pada satu kenyataan, bahwa mereka melewatkan satu detail penting dalam penyelidikan surat cinta kaleng untuk Mila. Nahasnya, detail itu membuat kerja keras mereka enggak berarti. Artinya, apa yang mereka lakukan sia-sia.

Sequence 6. Kejatuhan

Setelah mendapatkan masalah yang pelik pada sequence 5, tahap ini para karakter menjalani kehidupannya dengan keadaan yang berantakan sebagai efek dari terpaan badai masalah sebelumnya. Bagai sebuah bencana alam, fase ini menceritakan keadaan lingkungan yang porak-poranda setelah bencana.

Contoh : Karena kesalahan mereka, anak-anak Detektif Sekolah jadi malas melanjutkan penyelidikan. Mereka galau.

KONKLUSI

Sequence 7. Kebangkitan

Fase ini adalah fase titik balik. Karakter yang tadi amburadul, kacau balau, berantakan, mencoba bangkit kembali dan berusaha mencapai tujuan awal.

Contoh: Detektif sekolah kembali bertemu. Mereka sadar, mereka sudah bergerak terlalu jauh, dan tak ingin mengecewakan Mila yang sangat berharap pada mereka. Mereka menata ulang strategi penyelidikan, dengan melengkapi detail-detail yang terlewat.

Sequence 8. Dunia yang sempurna

Masing-masing karakter telah menemukan sesuatu yang kurang atau hilang dalam hidupnya. Kesemuan yang tadi menyelimuti hidupnya, menghilang.

Contoh : Dengan strategi baru, akhirnya mereka berhasil menyelesaikan kasus Mila dengan memuaskan. Detektif sekolah sangat bahagia dapat menolong seseorang, ternyata hal tersebut mampu membuat mereka merasa berarti.

Kira-kira begitu teman-teman. Karena aliran saya adalah komedi, tentu saja cerita saya balur dengan nuansa komedi :)

Secara sekilas, metode 8 sequence dalam plot ini mengarah pada happy ending. Tapi sebenarnya enggak. Metode ini enggak ada hubungannya dengan ending yang akan kita ciptakan. Mau happy ending, sad ending, bahkan ending yang menggantung sekalipun dapat menggunakan sequence ini. Sekali lagi, metode penyusunan plot ini adalah sebuah mangkuk. Mau diisi apa mangkuk itu, ya terserah kita sebagai penulis kan? :)

Nah, segitu dulu aja dari saya ya. Semoga bermanfaat buat temen-temen. Sampai jumpa lagi di #YukNulis selanjutnya. Hmm, selanjutnya mungkin saya akan bercerita tentang karakter. See you soon!


#YukNulis
Abi With Love 





Thursday, 10 July 2014

[Review & Ucapan Terima Kasih] Sabtu Bersama Bapak



Sebagai penggemar berat Nadia Mulya, ehm, Adhitya Mulya, adalah sebuah dosa kalau saya enggak nge-review satupun buku Kang Adhit. Sebagai informasi, Kang Adhit adalah salah satu inspirator yang bahkan saya anggep sebagai guru dalam tapak karir kepenulisan saya di dunia komedi, selain Boim Lebon dan Hilman Hariwijaya. Sebagai rasa terima kasih untuk Kang Adhit, kali ini saya bakal nge-review buku terbarunya, Sabtu Bersama Bapak. ^_^

      Gambar diambil dari sini

Cerita diawali oleh Gunawan Garnida, seorang pengidap Kanker stadium akhir yang memiliki dua anak yang masih kecil, Satya dan Cakra. Sadar usianya udah enggak lama lagi, Gunawan membuat satu kenang-kenangan berharga untuk menemani kehidupan dua anaknya nanti. Dengan dibantu sang Istri, Gunawan membuat rekaman video dirinya yang berisi prinsip hidup, nilai-nilai, dan nasihat yang diharapkan mampu menjadi jawaban atas permasalahan anak-anaknya kelak.

Sepeninggal Gunawan, setiap hari sabtu sang istri memutarkan video-video tersebut di depan Satya dan Cakra. Hari sabtu menjadi hari favorit kedua anak itu, karena di hari itu mereka menghabiskan waktu bersama cerita Bapak yang kadang membuat mereka tertawa, terharu, dan merindu. Hingga halaman terakhir, novel ini membeberkan bagaimana Satya dan Cakra menjalani kehidupan dewasanya bersama video sang Bapak.

Setelah tampil mengecewakan pada Mencoba Sukses (sorry, Kang), saya mendapati buku ini dengan memasang harapan yang tinggi. Melihat ketebalan bukunya, saya berdoa agar ukuran font-nya enggak kaya Mencoba Sukses yang gedenya ya ampun banget. Ketika membaca blurb dihalaman belakang, saya bergumam heran, “Ini novel non-komedi ya? Kang Adhit serius nih?” Wajar, karena siapapun yang kenal dengan karya-karya Kang Adhit sebelumnya, pasti berharap ngakak ketika membaca bukunya.

Pertanyaan saya terjawab ketika mulai melahap buku ini. Halaman, demi halaman saya lalui dengan perasaan yang campur aduk. Gimana enggak, Coy, lewat buku ini Kang Adhit mencampur semua unsur yang ada. Komplit, Men! Mau cari apa? Komedi, ada. Drama, ada. Parenting, ada. Persiapan Pernikahan, ada. Semua ada, Men. Teknik debus aja yang enggak ada hehe. Dan ini brilian banget menurut saya. Mencampurkan beberapa tema dan berbagai pesan moral itu sangat berisiko. Kalau eksekusinya enggak bagus, cerita bisa kehilangan fokus. Jelinya, Kang Adhit membuat video sang Bapak menjadi batang pohon yang kokoh. Dan pesan-pesan yang disampaikan melalui kehidupan Satya dan Cakra berperan sebagai ranting-ranting yang membuat Sabtu Bersama Bapak menjadi pohon yang sempurna. Keren mamen.

Saya pribadi cukup mengikuti tulisan-tulisan Kang Adhit di blognya sejak zaman revolusi industri (pokoknya baheula bangetlah :p). Dan menurut saya, Sabtu Bersama Bapak bukan tentang seorang Gunawan Garnida, tapi tentang seorang Adhitya Mulya. Semua pesan dan nilai yang disampaikan lewat novel ini beliau banget. Bagi saya, novel yang baik adalah novel yang jujur. Dan saya merasakannya hal tersebut di Sabtu Bersama Bapak.

Novel ini cocok banget buat saya, yang baru aja jadi ayah. Cocok juga buat temen-temen yang lagi cari calon suami/istri, yang lagi merencanakan pernikahan, yang lagi menjalani awal pernikahan, yang udah punya anak banyak, semua deh. Sebab ngebaca novel ini rasanya kaya masuk toserba, barang-barang yang kamu cari ada semua, dan akhirnya keluar toko dengan senyum gemilang.

Akhir kata, terima kasih buat Kang Adhit yang udah nulis buku yang lengkap ini, terima kasih juga udah menjadi guru saya dalam menulis. Ditunggu selalu karya-karyanya, Kang. Sukseus!!


_Dimas Abi_